Saturday, January 15, 2011


Rehat selepas . . . atau sambil berkhayal

. . .

Diceritakan dari siapa entah siapa . Bahawasanya, ada sebuah cerita, tak terlalu lama . Tapi, di zaman dahulu kala

Ada disebut-sebut akan seorang ulama' wibawa . Mashyur namanya harum melekat di tiang-tiang sandaran Azhar

Lalu, terjadilah peristiwa bila sedang hangat bermadah ilmiah . Kakinya dilunjur ke depan dek kebas lamanya bertapa-sila

Jadi cerita, bila mula cerita . Seorang pembesar diraja masuk menyinggah . Dengan seiring gah, melewati tikar madrasah

Belum sampai ajalnya lagi sang ulama' untuk menghinakan diri

Kakinya kejap sepertinya tadi, tak dikalih walau seinci . Walau datanglah seribu kekuasaan Romawi, takkan setimpal maksud mengkalih kaki

Hairanlah sang pembesar diraja . Musykil hatinya, mengangka-angka darjah durhaka sang ulama' wibawa

Maka, dijelaskanlah mahiah latar kejadian . Pasal prinsip keagungan yang ditegakan, terpakai dari dulu hinggalah ke mana usia zaman

"Bukan sultan kuasa yang diagung . Lebih layak sultan ilmu yang disanjung . Sudah itu, tak perlu dikalih kaki alang bendul"

Gegak gempita rohani sang pembesar . Menangis meraung sekuatnya dalam kalbu raga . Diperintahnya sehabis ada segala harta, sebagai hadiah buat persembahan sang wibawa

Sesampainya rombongan persembahan, disambut pula tidak dengan kesyukuran

Kerana . Bukan intan permata yang dicari . Bukan penghargaan sebegitu yang ditagihi

"Yang kakinya dilunjur, selamanya tadah takkan pernah dihulur"

. . . .

Dah lama tak membaca buku arab sambil berkhayal . Satu-satu dibaca . Satu-satu lagi khayal

at 3:48 AM
Categories: Labels:

 

2 comments:

Anonymous said...

Kira, ini sebuah kisah kat negara arab suatu masa dahulu ya?

--

Afra' Azam.

ijalceritera said...

sastera warna, sangat suka

 
>